, ,

Dunia Angker di Balik Pembunuhan Ritual Pengganda Uang yang Jadi Perangkap Maut

oleh -2086 Dilihat

Dukun Pemuas Nafsu: Dari Ritual Pengganda Uang hingga Pembunuhan Berdarah Dingin di Deli Serdang

Jeritan Tanjungbalai– Dunia gaib dan janji kekayaan instan seringkali menjadi perangkap mematikan bagi mereka yang sedang terjebak dalam kesulitan ekonomi. Sebuah tragedi mengerikan terjadi di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, yang menguak sisi kelam dari praktik perdukunan dan penipuan yang berakhir dengan kematian. Seorang dukun, Alfian, nekat membunuh kenalannya sendiri, Kwek Tjue (67), hanya karena emosi lantaran uang yang dibawa korban tak sesuai permintaan. Motifnya sederhana sekaligus tragis: keserakahan yang dibungkus kebohongan.

Janji Palsu di Tengah Jerat Kesusahan

Cerita bermula dari sebuah keputusasaan. Kwek Tjue, seorang pria berusia 67 tahun, disebut-sebut sedang mengalami kesulitan ekonomi. Dalam kondisi terjepit, manusia seringkali mencari jalan pintas, dan Kwek pun teringat pada seorang kenalan lama, Alfian, yang mengklaim memiliki kemampuan gaib: menggandakan uang.

Kisah di Balik Ibu Hamil yang Melahirkan di Tepi Jalan Rusak, Dibantu Warga hingga Ditandu dengan Kain Sarung

Baca Juga: Hari Ini, Masyarakat Diminta Manfaatkan Info Cuaca BMKG untuk Rencanakan Aktivitas Luar

Pada Jumat malam, 16 Agustus 2025, sekitar pukul 18.45 WIB, Kwek berangkat dengan sepeda motornya ke kediaman Alfian di Desa Cinta Rakyat. Ia tidak pergi sendirian; untuk alasan yang masih belum jelas, ia membonceng anak perempuannya, mungkin untuk menemani atau sekadar meyakinkan dirinya. Pertemuan dua orang yang sudah saling kenal ini seharusnya berlangsung akrab. Nyatanya, itu adalah awal dari sebuah skenario horor.

Ritual Awal dan Perjalanan Menuju Maut

Sesampainya di rumah Alfian, korban disambut dengan “prosedur” ritual. Sebagai langkah pertama, Alfian menyuruh Kwek untuk mandi—sebuah praktik umum dalam banyak ritual untuk “menyucikan” diri. Setelah itu, dengan alasan untuk melakukan ritual di tempat yang lebih “khusyuk” atau memiliki energi tertentu, Alfian mengajak Kwek pergi. Mereka berdua pergi menggunakan sepeda motor milik Kwek, meninggalkan anak perempuan Kwek sendirian di rumah sang dukun.

Perjalanan maut itu berlanjut ke Desa Tanjung Rejo. Di tengah jalan, mereka berhenti untuk membeli sebuah kepala muda (kelapa muda), yang diklaim sebagai salah satu syarat ritual. Sesampainya di sebuah lokasi terpencil, suasana yang semula dianggap sebagai proses spiritual berubah drastis. Alfian membelah kepala muda itu dan meminta Kwek meminum airnya. Ia kemudian menyuruh Kwek untuk membakar dupa sambil duduk bersila—dengan posisi membelakangi dirinya.

Inilah momen yang dimanfaatkan Alfian. Saat Kwek tengah khusyuk dan dalam posisi paling rentan, Alfian menghunuskan senjata tajamnya dan membacok leher pria tua itu tanpa ampun. Kwek Tjue tewas di tempat, terbaring di lokasi yang seharusnya menjadi tempat “pengubahan” nasibnya. Darah menggantikan air kelapa, dan janji kekayaan berubah menjadi kenyataan kematian.

Kebohongan Berlapis dan Niat Jahat pada Sang Anak

Dengan dingin, Alfian meninggalkan jenazah Kwek tergeletak begitu saja. Ia kembali ke rumahnya di Desa Cinta Rakyat dengan mengendarai sepeda motor milik korban. Sesampainya di rumah, ia dihadapi oleh anak perempuan Kwek yang tentu saja bertanya tentang keberadaan ayahnya.

Dengan wajah tanpa dosa, Alfian membungkus kebohongan barunya. “Ayahmu sedang membeli makanan,” katanya, mencoba meredam kecemasan gadis itu. Namun, niat jahat Alfian belum berakhir. Didorong oleh insting untuk menutupi kejahatannya atau mungkin oleh kegilaan yang sudah merasuki pikirannya, ia berniat melakukan hal yang sama pada anak korban. Ia mencoba menjerat gadis itu dengan modus ritual serupa.

Namun, berbeda dengan ayahnya, anak perempuan Kwek tidak patuh. Ia melawan. Melihat penolakan itu, Alfian berubah menjadi beringas. Ia memukuli, mencekik, dan menginjak-injak gadis malang itu hingga menyebabkan luka-luka di wajah dan sekujur tubuhnya. Dalam situasi yang mustahil dan penuh kepanikan, naluri bertahan hidup gadis itu muncul. Dengan sisa tenaga, ia menendang kemaluan Alfian sekuat-kuatnya.

Tendangan itu tepat sasaran. Alfian menjerit kesakitan dan pingsan. Detik-detik berharga itu digunakan oleh anak korban untuk menyelamatkan diri. Ia lari keluar rumah, mencari pertolongan, dan akhirnya berhasil melaporkan kejadian mengerikan itu kepada kepala dusun setempat.

Penangkapan dan Pengakuan Sang Pelaku

Setelah sadar dan menemukan korbannya telah melarikan diri, Alfian pun kabur. Namun, jejaknya sudah tercium. Polisi, yang telah mendapat laporan, melakukan penyelidikan. Pada Sabtu, 23 Agustus 2025, polisi berhasil menemukan jenazah Kwek Tjue yang sudah membusuk di lokasi pembunuhan. Di hari yang sama, sekitar pukul 15.00 WIB, Alfian berhasil diciduk di Desa Saentis.

Saat ditahan di Polsek Medan Tembung, Alfian mengakuinya dengan polosnya. Motifnya bukanlah karena kekuatan gaib yang gagal, tetapi emosi dangkal atas uang yang tidak sesuai. Kepala Polsek Medan Tembung, AKP Ras Maju, membeberkan kronologi permintaan uang itu.

“Awalnya pelaku minta uang untuk digandakan sebanyak Rp 100 juta. Lalu turun menjadi Rp 20 juta. Terakhir, korban hanya membawa Rp 1,1 juta. Itulah yang membuat pelaku langsung emosi,” jelas Ras Maju.

Dalam pengakuannya, Alfian bahkan dengan jujur—atau mungkin naif—mengakui bahwa semua kemampuannya adalah kebohongan belaka. “Bohong-bohong saja Pak. Saya perlu uang itu untuk kebutuhan sehari-hari,” ucapnya. Ia sama sekali tidak bisa menggandakan uang. Janji itu hanyalah umpan untuk mengambil keuntungan dari orang yang sedang berada dalam titik lemah.

Refleksi di Balik Tragedi: Kerentanan dan Penipuan Berkedok Spiritual

Tragedi ini adalah potret suram dari dua sisi yang sama berbahayanya: kerentanan korban dan niat jahat pelaku. Kwek Tjue, yang sedang susah, menjadi sasaran empuk bagi penipuan yang memanfaatkan harapan dan keputusasaan. Alfian, di sisi lain, adalah representasi dari predator yang melihat kesulitan orang lain sebagai peluang untuk dieksploitasi, bahkan hingga menghilangkan nyawa.

Kasus ini juga menjadi pengingat keras bagi masyarakat untuk selalu waspada terhadap janji-janji instan, terutama yang berhubungan dengan uang dan kekayaan melalui jalur non-rasional. Praktik perdukunan pengganda uang adalah penipuan klasik yang telah memakan korban berulang kali, namun selalu ada saja yang terjebak.

Alfian kini mendekam di tahanan Polsek Medan Tembung, menunggu proses hukum yang akan menjatuhkan vonis atas perbuatannya: pembunuhan berencana atau dengan rencana, penganiayaan, dan penipuan. Namun, luka mendalam telah tertinggal: seorang anak yang kehilangan ayahnya secara tragis dan harus menyimpan trauma fisik dan psikis yang mungkin tak akan pernah hilang seumur hidupnya. Tragedi di Deli Serdang ini adalah alarm bahwa keserakahan dan kebohongan bisa bertransformasi menjadi kekerasan paling biadab, yang dimulai dari sebuah janji hampa tentang uang yang bisa beranak pinak.

Skintific

No More Posts Available.

No more pages to load.