, ,

Suara Gemuruh Mengerikan, Puting Beliung Porak-Porandakan 350 Rumah di Sergai

oleh -2242 Dilihat

Puting Beliung Terjang 8 Desa di Sergai, 350 Rumah Rusak: Kisah Kepanikan dan Solidaritas di Malam Kelam

Jeritan Tanjungbalai– Suara gemuruh yang menderu dan dentingan seng yang berterbangan menjadi soundtrack ketakutan bagi ratusan warga delapan desa di Kecamatan Teluk Mengkudu, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), Sumatera Utara, pada Jumat malam (22/8/2025). Bencana alam angin puting beliung yang muncul tiba-tiba selepas magrib itu meninggalkan jejak kehancuran yang memilukan: 350 unit rumah rusak, harta benda porak-poranda, dan trauma mendalam yang tersimpan di benak para korban.

Malam yang Berubah Menjadi Mimpi Buruk

Bencana tersebut terjadi sekitar pukul 19.30 WIB, diawali dengan hujan deras yang seolah menjadi pembuka bagi sebuah pertunjukan mengerikan. Namun, yang turun bukan hanya air, melainkan amukan angin yang memutar dengan kekuatan dahsyat. Puting beliung itu menyapu permukiman warga dengan kecepatan tinggi, menghancurkan segala sesuatu yang dilewatinya.

Kapolres Sergai, AKBP Jhon Sitepu, dalam keterangan tertulisnya pada Minggu (24/8/2025), mengonfirmasi dampak parah dari bencana tersebut. “Jadi dampak pasca hujan deras disertai angin puting beliung di wilayah hukum Polsek Teluk Mengkudu ini, rumah rusak berat dan ringan sebanyak 350 unit, dan tidak ada korban jiwa,” ujarnya. Sebuah kabar baik di tengah nestapa, bahwa nyawa-nyawa dapat diselamatkan meski tempat bernaung mereka luluh lantak.

Larik Panik dan Perlindungan di Atas Jembatan

Kisah-kisah heroik penyelamatan diri pun terungkap dari para korban. Maharani (49), seorang ibu dan warga Desa Sialang Buah, menceritakan mencekamnya detik-detik ketika angin menerjang. Saat itu, ia sedang menikmati makan malam bersama kedua anaknya. Tiba-tiba, suara angin yang tidak biasa membuatnya waspada.

Suara Gemuruh Mengerikan, Puting Beliung Porak-Porandakan 350 Rumah di Sergai
Suara Gemuruh Mengerikan, Puting Beliung Porak-Porandakan 350 Rumah di Sergai

Baca Juga: Danau Toba Gempar, Maling HP Tabrak Warga Hingga Tewas Diamuk Massa

“Tiba-tiba atap seng rumah saya terbang. Rasanya seperti dunia runtuh. Saya bersama kedua anak langsung lari, tanpa pikir panjang, hanya insting menyelamatkan nyawa,” kenang Maharani dengan suara bergetar, dihubungi via telepon seluler. Tujuan satu-satunya: Jembatan Sialang Buah yang kokoh. Di sanalah mereka dan puluhan warga lainnya berlindung, berdesakan, basah kuyup oleh hujan, sambil memandang ketakutan ke arah rumah mereka yang sedang dihancurkan oleh amukan alam.

Kisah serupa diceritakan oleh Mardiani (23), warga lain dari desa yang sama. “Langitnya langsung gelap, suaranya mengerikan. Takut rumah roboh, ya langsung lari saja ke jembatan. Itu yang paling aman yang terpikir saat itu,” ujarnya. Jembatan yang biasanya menjadi penghubung antar-wilayah, pada malam itu berubah menjadi simbol harapan dan penyelamatan.

Solidaritas di Tengah Reruntuhan

Pagi setelah bencana, pemandangan pilu menyambut warga. Rumah-rumah yang atapnya terbang, dinding-dinding yang rubuh, dan harta benda yang berantakan berselimut lumpur dan air hujan. Namun, di balik kehancuran itu, tampak cahaya solidaritas yang menyala terang.

Kapolres Sergai, AKBP Jhon Sitepu, menyatakan bahwa pihak kepolisian bersama Pemerintah Kabupaten Sergai segera turun tangan memberikan bantuan. Bantuan sembako didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan darurat warga. Tidak hanya itu, bersama-sama dengan masyarakat, mereka juga bergotong royong membersihkan puing-puing dan reruntuhan.

Yang menarik, bantuan yang ditawarkan tidak hanya bersifat materil. Kepolisian memahami bahwa bencana seringkali juga melenyapkan dokumen-dokumen penting. “Selain bantuan materil, kami juga akan membantu bila mana ada dokumen yang berkaitan dengan kepolisian, contohnya surat-surat kendaraan. Kami siap membantu, silakan koordinasikan ke pihak pemerintah desa agar mereka melaporkan kepada kami,” pungkas Jhon Sitepu. Langkah ini menunjukkan pendekatan yang komprehensif dalam penanganan pasca-bencana.

Peringatan Alam dan Pentingnya Kesiapsiagaan

Bencana di Sergai ini kembali menambah daftar panjang kejadian cuaca ekstrem yang melanda Indonesia. Puting beliung, meskipun durasinya singkat, menyimpan kekuatan yang sangat merusak. Fenomena ini seringkali terjadi pada masa transisi musim (pancaroba), dipicu oleh ketidakstabilan udara, tingginya suhu permukaan tanah, dan perbedaan tekanan udara yang signifikan.

Kejadian di Teluk Mengkudu menjadi pengingat keras bagi semua pihak akan pentingnya mitigasi bencana dan kesiapsiagaan masyarakat. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Memahami Tanda-Tanda Alam: Awan gelap yang menjulang tinggi (seperti bunga kol), angin kencang yang tiba-tiba, dan hujan deras yang mendadak dapat menjadi pertanda.

  2. Memiliki Rencana Evakuasi Keluarga: Menentukan tempat perlindungan yang aman dan kokoh seperti basement atau ruangan di tengah rumah tanpa jendela. Dalam kasus warga Sergai, jembatan beton yang kokoh menjadi pilihan.

  3. Mengamankan Barang-Barang di Sekitar Rumah: Atap seng yang tidak terpasang kuat, pot tanaman, atau papan reklame dapat menjadi proyektil berbahaya saat angin kencang.

  4. Mengikuti Informasi Cuaca Terkini: Memantau peringatan dini dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui aplikasi atau media sosial.

Malam kelam di Sergai mungkin telah merenggut tempat tinggal, tetapi tidak mematahkan semangat warganya. Jejak kehanciran yang ditinggalkan oleh puting beliung kini perlahan-lahan dibersihkan, digantikan oleh semangat gotong royong dan harapan untuk membangun kembali. Kisah kepanikan di atas jembatan akan menjadi cerita yang dituturkan turun-temurun, bukan sebagai kisah horor semata, tetapi sebagai pengingat akan betapa rentannya manusia di hadapan alam dan betapa kuatnya ikatan manusia ketika bersatu membantu sesama.

Skintific

No More Posts Available.

No more pages to load.